Postingan

Akhir Tahun Masehi (2020)

Gambar
" Mugo anakku edan kabeh, "   Doa beliau terdengar orang lain kala itu, kenangnya. Namun tak sesiapa pun berani menegurnya dan bertanya.   Di sela cerita aku menanggapi, "Mengapa?," Tanyaku keheranan.   Wajah berseri lengkap dengan wibawanya tersebut kemudian mengatakan,   "Bapak belum selesai, sisanya bapak simpan dalam hati (.... Gila karena kecintaannya terhadap Rabb dan Rasul-Nya),"   🥀   ____   Sebelum aku berangkat ke perantauan, itu adalah sekelebat kisah yang sedikit menggores batinku. Bagaimana bisa kepercayaan sebesar itu beliau limpahkan padaku. Aku menjadi beberapa tahun lebih tua daripada tahun terdahulu dimana rasanya sekarang bisa dikatakan adalah masa kemunduranku.   Aku hanya bisa menatap netranya yang bersinar siang itu. Oh Tuhan, bapak tengah menegurku dengan do'anya. Dan dengan sangat kurang ajar nyata aku belum mampu mengabulkan do'anya. Seketika rasa malu menggelayuti batinku. ...

Ale

Gambar
Ini Hari Rabu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 di sore hari tepatnya waktu Indonesia bagian barat. Dan Anna masih dengan baju yang sama seperti yang tempo hari ia kenakan. Tidak terlihat tanda-tanda ia akan bergerak dari ranjang barang sedikitpun. Air mata terus membasahi pipi ranumnya, dan terlihat betapa bibirnya yang cantik kini kian memucat. Oh ayolah, ini hanya perihal cinta dan dia bisa sehancur itu. Pintu berderit dan menandakan seseorang tengah masuk ke dalam ruangan bertema serba gelap itu. “Secinta itu kau kepadanya?,” Langkah kecil wanita paruh baya itu tak menarik sama sekali perhatian gadis yang tengah tidur membelakanginya itu. Margaret, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh putrinya. Seisi ruangan nampak berantakan dan seolah tak bernyawa. Merasa tak dihiraukan, Margaret naik ke ranjang dan mengelus perlahan pucuk rambut putri kesayangannya itu. Tidak bergerak, netranya terbuka namun menatap kosong meja belajar yang disana terdapat sebuah foto ...

Moodmu Kehancuranmu

Gambar
Owh, Halo.. Aku tidak tahu bagaimana harimu dan semua yang terjadi pada kalian semua yang membaca tulisanku ini. Tapi aku harap semua berjalan baik-baik saja. Jadi begini, sudah seringkali aku menyusupi kehidupan orang lain yang kuanggap sebagai bentuk kurang ajar bagi seseorang yang baru kutemui. Aishhh, maksudku begini ada kalanya beberapa orang tertentu akan merasa tidak nyaman jika kita ajak berbincang dalam sekali waktu pertemuan, lain halnya dengan beberapa orang yang memang merasa baik-baik saja dengan orang baru. Pada Hari Kamis lalu, lebih tepatnya pada tanggal 9 November 2021 aku pergi ke sebuah warung kopi yang agak sedikit jauh dengan rumah. Aku mengetahui bahwa yang mana jika sesuatu dianggap berat dan beban akan menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai. Bukan satu dua kali praduga itu terjadi namun lumayan sering. Baiklah, sekarang beralih pada konteks sesungguhnya. Diawali dengan ketidakberuntungan diriku saat merasa telah menambah uang saku ke dalam hood...

Krisis Iklim Disebabkan Oleh Korupsi?

Pada Hari Kamis, lebih tepatnya tanggal 28 kemarin dalam koran digital tempo mengangkat tema besar berupa krisis iklim dengan hashtag “Muda yang Peduli”. Adapun hal ini menjadi sangat penting sebab dalam kacamata generasi z maupun milenial beranggapan bahwa isu lingkungan selama ini seolah tengah dinomor duakan. Mungkin bagi sebagian orang berita ini akan menjadi hal yang biasa, setelah dikupas tuntas nyatanya banyak menyita pikiran untuk turut memusingkan apa yang terjadi pada alam kita saat ini. Sebelum lebih jauh, bagi orang awam yang masih asing dengan istilah generasi z maka sederhanya dapat diartikan sebagai generasi yang lahir antara tahun 1997-2012. Baiklah, sekarang beralih pada pokok bahasan utama. Salah satu berita utama mengingatkan buku “Dunia Anna” karya Jostein Gaarder. Bagaimana tidak, lead berita membahas ihwal anak kecil berusia 11 tahun yang mulai berinisiatif untuk membuat situs web mengenai informasi krisis iklim. Seperti yang sudah diketahui umum, memanglah i...

Ya, Tidak Masalah!

Gambar
"Tak perlu khawatir, aku hanya perlu sendiri" ucapku untuk kesekian kalinya. Itu kata terakhir yang kuucapkan padanya sore kemarin selepas hujan. Oh hei, tapi ini Xavier kataku. Dia akan terus saja mengganggu hidupku dan bertanya segala kegiatanku. Aku menghargai itu, tapi aku sedikit tidak suka berbicara terlalu banyak. Kupikir dia akan mengerti, tapi tidak. Dunia bukan hanya milikku dan aku harus mengerti orang lain. Sial, jalan seperti apa lagi ini. "Zea, dimana? Aku kesana yah?" Baru saja kupikirkan, Xavier sudah bertanya. Gila, manusia semacam apa dia sampai tidak punya dunianya sendiri dan ingin selalu masuk dalam duniaku, keseharianku, dan segala hal tentangku. "Ya, terserah" "Ah tidak asik, identik dengan perempuan lainnya" Aku mana peduli. Dulu aku peduli, tapi dia malah semakin menjadi-jadi. Lalu aku harus terluka lagi dan lagi dalam kebungkamanku. "Kita ke Warung Pak Man, vi?" "Oke, aku jemput. Jangan lama-la...

404

Gambar
Hari ini Hari Selasa, yah! Ini kali pertama aku berada dalam keheningan yang berlarut-larut. Bukan hening yang membawa damai, tapi masih dengan hening yang suka membawa pikiran-pikiran aneh. Aku terus berpikir apa pemicunya sampai bisa begini. Dan bahkan sampai aku duduk untuk menulis catatan ini pun semua tetap sama, tetap pada keresahan yang membuat badanku bermandikan peluh sekalipun sedang terlelap dalam tidur. Aku juga mengalami bangun pagi yang tidak menyenangkan, badan sakit semua dan kondisi mata yang bengkak. “Apa anak gadis menangis tanpa sadar dalam tidurnya?” Kupikir tidak, karena itu sanngat konyol. Kemudian ku tatap wajahku di cermin, kata ibu cahayanya hilang. Tapi aku tidak percaya, karena wajah tidak pernah menghasilkan cahaya. Mungkin itu hanya kalimat kuno yang dilayangkan untuk mengetahui isi hati seseorang. Tapi silahkan menyelam! Baik di mata maupun hati kau tidak akan menemukan apapun selain kekosongan. Tidak ada yang bisa aku katakan, tidak a...

Aku Menyesali Kematianmu

Gambar
Aku tidak ingat ini adalah hari ke berapa dalam setiap pekan yang memuakkan hatiku. Aku ingin berteriak, marah, dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapanku. Tapi aku tidak bisa, kau tahu? Mereka melihatku sebagai seseorang yang penuh dengan kelembutan alih-alih penuh dengan amarah dan kebencian. Anehnya aku tetap hidup sampai sekarang, sampai semua orang menatapku dengan ragu lalu berkata “Oh hei, dulu kau sering menangis di dekat lemari pendingin”. Ku pikir dia hanya tidak tahu, tangisku hampir setiap malam selalu datang dan memelukku dalam pekatnya malam. Ada yang bilang padaku bahwa jangan selalu berkata bahwa kau, aku, dan siapapun tengah terluka. Rasanya aku ingin berbicara di depan hidung panjangnya itu sekaligus dengan umpatan, agar dia berhenti berkata sebab aku malas mendengar kalimatnya yang membeo setiap saat. Memangnya hanya dia yang boleh terluka? Ucapku sekali lagi tapi tidak padanya. Terkadang aku wajib merasa heran dengan setiap kepala yang me...