Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Ale

Gambar
Ini Hari Rabu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 di sore hari tepatnya waktu Indonesia bagian barat. Dan Anna masih dengan baju yang sama seperti yang tempo hari ia kenakan. Tidak terlihat tanda-tanda ia akan bergerak dari ranjang barang sedikitpun. Air mata terus membasahi pipi ranumnya, dan terlihat betapa bibirnya yang cantik kini kian memucat. Oh ayolah, ini hanya perihal cinta dan dia bisa sehancur itu. Pintu berderit dan menandakan seseorang tengah masuk ke dalam ruangan bertema serba gelap itu. “Secinta itu kau kepadanya?,” Langkah kecil wanita paruh baya itu tak menarik sama sekali perhatian gadis yang tengah tidur membelakanginya itu. Margaret, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh putrinya. Seisi ruangan nampak berantakan dan seolah tak bernyawa. Merasa tak dihiraukan, Margaret naik ke ranjang dan mengelus perlahan pucuk rambut putri kesayangannya itu. Tidak bergerak, netranya terbuka namun menatap kosong meja belajar yang disana terdapat sebuah foto ...

Cerpen : "Kalau Kucing Bisa Bicara"

Gambar
Malam hari yang melelahkan, ditambah dengan rintik hujan yang sudah mulai turun membasahi bumi memaksa Kevin harus meneduh sebentar. Ia menggiring motornya ke pinggir jalan dengan lambat. Kevin berlari kecil menuju halte, hidungnya mulai terlihat memerah karena suhu kota yang tak bersahabat di kala hujan melanda. “Aku pikir berteduh sebentar tak akan masalah,” ucapnya dengan sengau. Perlahan ia merapatkan jaketnya, mengusap kedua telapak tangan berharap itu akan sedikit menghangatkan badannya. Ia terus menggerutu karena tak seharusnya ia melembur kalau saja temannya masuk kerja. Hari ini ia begitu kerepotan, belum lagi kejengkelannya yang tak usai setelah puas menendang bahkan menyiram kucing liar yang mencuri sepotong ayam favoritnya di meja kantin. “Oh sial sekali, aku masih ingat betapa kucing liar itu merasa keenakan memakan ayam di akhir bulan,” “Aku harap Tuhan membalas kebaikan untukmu, bukannya sengaja aku melakukan itu. Aku makan kalau saja aku menemuka...

HAM(PA)_

Gambar
HAMPA “Kau terlihat seperti zombie, bibi,” Aku terkejut, anak kecil dengan setelan rapi dan comma hair andalannya berdiri disamping kursi santaiku sambil mempertontonkan deretan giginya yang putih. “Hei, bersikaplah sopan, aku bibimu,” Tawanya menggelegar, oh aku sadar sudah lama sejak beberapa bulan lalu kami baru bertemu. Kesibukan membawaku sedikit berjarak dengannya. “Kenapa orang dewasa selalu terlihat monoton dan membosankan. Apakah dewasa itu sebuah kutukan?” tanyanya tiba-tiba. “Aku tidak akan bicara apapun soal itu, kau akan mengetahui segalanya saat sudah sampai pada masanya. Ngomong-ngomong kenapa kau kemari? Dimana kedua orangtuamu?” “Mereka mengantarku kemari, dan pergi ke sebuah pesta pernikahan. Aku tidak tertarik, makadari itu aku meminta ayah menurunkanku di depan apartemenmu,” Aku pikir hari ini adalah hari tenang bagi bulan yang kesekian dimana kesibukan membelenggu diriku. Aku tidak baik-baik saja, dan aku mengakui itu. Tidak ada satu ...

I Can See Your Deep Eyes

Gambar
Ini adalah jum`at terpanjang dengan hujan yang memeluk ringkihnya tubuhku. Yang tepat tiga pekan lalu masih seorang bisu nan tak dapat berkata apapun walau badai masalah menerpanya. Bara, begitu kusebut lelaki dengan mata sayu dan rambut tak terurus itu. Hari hari ia lewati dengan senyum merekah di wajahnya. Hanya karena aku diam bukan berarti aku tak mengerti bagaimana ia sejatinya. Seseorang bertanya padaku, bagaimana aku melihat sosok Bara. Aku mengatakan dia adalah tipikal lelaki humoris dan cerewet. Tentu saja aku menolak jujur, sesuatu hal yang sifatnya sangat sensitif tak perlu dikatakan untuk kepentingan informasi orang lain. Beberapa kali aku menghabiskan waktu dengan sosok Bara. Pandangan orang lain terhadapnya sudah pasti mengarah pada asumsi aneh, nakal, dan pembangkang. Sejatinya ia hanya memoles sedikit warna asli pada jiwanya. He is a good boy, and I know about that . Maaf, karena Syifamu ini harus bercerita. Baik, mari kita teruskan. Suatu ketika, se...

What's Wrong With Nadira?

Gambar
Siang itu aku dan Nadira pergi untuk mengikuti tes wawancara dalam sebuah komunitas public speaking dalam SMA kita. Sebenarnya ia tak benar – benar berkeinginan untuk bergabung, hanya saja dia tak mau lepas dariku. Itulah sebabnya ia mengikuti kegiatan apapun yang ku ikuti. “Kamu yakin Re? disana kita bakalan dapet ilmu yang berguna?” “Oh hei, pertanyaan konyol macam apa itu?” mataku memicing memandang raut mukanya yang mulai mengucurkan keringat dingin di pelipis kanannya. “Mereka gak akan marahin kita kan? Atau memerintah kita semaunya?” sorot matanya menyiratkan ketakutan yang berlebihan. “Kalo itu beneran terjadi, aku yang bakalan gontokin mereka. It`s okay , percaya kan sama Rere?” ku rangkul pundaknya untuk meyakinkan. Singkatnya kami melalui tes wawancara dengan waktu yang berbeda. Aku yang terlebih dahulu, sedang Nadira urutan ketiga setelahku. Maka aku menunggu giliran Nadira dengan sabar. Dua hingga tiga puluh menit berlalu Nadira pun mendapat bagia...